DESAIN GRAFIS
Pengertian Desain Grafis
Desain diterjemahkan sebagai seni terapan, arsitektur, dan berbagai pencapaian kreatif lainnya. Dalam sebuah kalimat, kata “desain” bisa digunakan baik sebagai kata benda maupun kata kerja. Sebagai kata kerja, “desain” memiliki arti “proses untuk membuat dan menciptakan obyek baru”. Sebagai kata benda, “desain” digunakan untuk menyebut hasil akhir dari sebuah proses kreatif, baik itu berwujud sebuah rencana, proposal, atau berbentuk obyek nyata.
Grafik adalah segala cara pengungkapan dan perwujudan dalam bentuk huruf, tanda, dan gambar yang diperbanyak melalui proses percetakan guna disampaikan kepada khalayak. Contohnya adalah: foto, gambar/drawing, Line Art, grafik, diagram, tipografi, angka, simbol, desain geometris, peta, gambar teknik, dan lain-lain. Seringkali dalam bentuk kombinasi teks, ilustrasi, dan warna.
Desain grafik adalah suatu bentuk komunikasi visual yang menggunakan gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan seefektif mungkin. Dalam disain grafis, teks juga dianggap gambar karena merupakan hasil abstraksi simbol-simbol yang bisa dibunyikan. disain grafis diterapkan dalam disain komunikasi dan fine art. Seperti jenis disain lainnya, disain grafis dapat merujuk kepada proses pembuatan, metoda merancang, produk yang dihasilkan (rancangan), atau pun disiplin ilmu yang digunakan (disain).
Konsep Desain
Proses alur kerja digital dimulai dengan konsep desain. Konsep desain yang sudah dibuat dan dirancang sedemikian rupa terkadang bisa jauh dari yang diharapkan karena berbagai faktor. Seorang desainer yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas tentang proses pracetak, cetak dan finishing akan dapat mengoptimalkan hasil kerja dan mengurangi kesalahan-kesalahan yang sering terjadi.
Suatu hari seorang desainer diminta oleh kliennya membuat konsep desain sebuah brosur. Data asli yang dibawa oleh kliennya berupa contoh cetakan dari luar negeri dengan 7 warna sehingga warna gambar tersebut sangatlah kontras dan cerah. Namun, oleh karena sang desainer kurang memahami teknik cetak, dia melakukan separasi dengan 4 warna, akhirnya warna yang diinginkan oleh klien tersebut tidak pernah tercapai. Dia sudah mencoba berulang kali output film, proof dan koreksi warna. Waktu dan biaya sudah banyak dihabiskan namun warna yang diinginkan masih belum tercapai sehingga menimbulkan frustasi kedua belah pihak.
Hal ini akan berbeda kasusnya apabila sang desainer memahami teknik cetak dan mengerti gambar yang dibawa klien adalah 7 warna. Maka dia akan mengantisipasi mengenai biaya produksi yang akan lebih tinggi untuk 7 warna dan tidak melakukan proses separasi dengan 4 warna saja melainkan juga dengan warna khusus. Banyak lagi kasus-kasus pada pracetak, cetak sampai finishing yang diakibatkan kekurang pahaman serta komunikasi sang conceptor dengan pihak produksi sehingga pada akhirnya kualitas hasil cetak yang diinginkan tidak sesuai harapan.
Lay Out
Layout adalah penyusunan dari elemen-elemen desain yang berhubungan kedalam sebuah bidang sehingga membentuk susunan artistik. Hal ini bisa juga disebut manajemen bentuk dan bidang. Tujuan utama layout adalah menampilkan elemen gambar dan teks agar menjadi komunikatif dalam sebuah cara yang dapat memudahkan pembaca menerima informasi yang disajikan.
Dalam konsep layout kita mengenal tiga kategori yaitu :
1. Grid System
Sebuah grid diciptakan sebagai solusi terhadap permasalahan penataan elemen-elemen visual dalam sebuah ruang. Grid systems digunakan sebagai perangkat untuk mempermudah menciptakan sebuah komposisi visual. Melalui grid system seorang perancang grafis dapat membuat sebuah sistematika guna menjaga konsistensi dalam melakukan repetisi dari sebuah kompisisi yang sudah diciptakan. Tujuan utama dari penggunaan grid systems dalam desain grafis adalah untuk menciptakan suatu rancangan yang komunikatif dan memuaskan secara estetik.
2. The Golden Section
Sebelum kita bisa membuat grid, kita memerlukan sebuah halaman untuk meletakkannya. Di bidang seni grafis, proporsi agung menjadi dasar pembuatan ukuran kertas dan prinsip tersebut dapat digunakan untuk menyusun keseimbangan sebuah desain. Proporsi agung sudah ditemukan sejak jaman kuno untuk menghadirkan proporsi yang sangat sempurna dan indah.
Membagi sebuah garis dengan perbandingan mendekati rasio 8 : 13 berarti bahwa jika garis yang lebih panjang dibagi dengan garis yang lebih pendek hasilnya akan sama dengan pembagian panjang garis utuh sebelum dipotong dengan garis yang lebih panjang tadi.
Proporsi agung juga dikenal dalam istilah deret bilangan fibonacci yaitu deret bilangan yang setiap bilangannya adalah hasil jumlah dari dua bilangan sebelumnya dan di mulai dari nol. Deret bilangan ini memiliki rasio 8 : 13 yaitu rasio proporsi agung. Bilangan ini sering dipakai dalam pengukuran bangunan, arsitektur, karya seni, huruf hingga layout sebuah halaman karena proporsinya yang harmonis. 0 1 1 2 3 5 8 13 21 34 55 89 144 233 377...
Sebuah obyek yang mempunyai proporsi agung mampu sekaligus memuaskan mata dan tercermin pada benda-benda alam. Ujung daun pakis dan spiral dalam rumah keong adalah contoh yang paling populer.
3. The symetrical grid
Dalam grid simetris, halaman kanan akan berkebalikan persis seperti bayangan cermin dari halaman kiri. Ini memberikan dua margin yang sama baik margin luar maupun margin dalam. Untuk menjaga proporsi, margin luar memiliki bidang yang lebih lebar. Layout klasik yang dipelopori oleh Jan Tschichold (1902-1974) seorang typographer dari Jerman ini didasari ukuran halaman dengan proporsi 2 : 3.
Dalam dunia desain, pemahaman tentang layout adalah syarat dasar yang harus dimiliki oleh calon desainer.
Typografi
Anda pernah mendengar mendengar istilah tipografi atau dalam bahasa inggris Typography? Jika anda ingin belajar desain grafis wajib mengetahui istilah ini karena akan sangat membantu anda dalam mengerjakan sebuah pekerjaan desain. Artikel berikut akan menjelaskan apa itu tipografi serta hal-hal apa saja yang kira-kira melibatkan tipografi.
1. Pengertian Tipografi
Tipografi (dalam bahas inggris : Typography) adalah perpaduan antara ilmu seni dan teknik mengatur tulisan, agar maksud serta arti tulisan dapat tersampaikan dengan baik secara visual kepada pembaca. Tipografi tidak hanya terbatas lewat pemilihan jenis huruf, ukuran huruf, dekorasi, kesesuaian dengan tema, tetapi juga meliputi tata letak vertikal atau horizontal tulisan pada sebuah bidang desain. Tipografi juga bisa dikatakan sebagai “visual language” atau dapat berarti “Bahasa yang dapat dilihat”.
Tipografi (typography) menurut Roy Brewer (1971) dapat memiliki pengertian luas yang meliputi penataan dan pola halaman, atau setiap barang cetak. Atau dalam pengertian lebih sempit hanya meliputi pemilihan, penataan dan berbagai hal bertalian pengaturan baris-baris susun huruf (typeset), tidak termasuk ilustrasi dan unsur-unsur lain bukan susun huruf pada pada halaman cetak.
Tipografi Menurut Stanley Marrison “Tipografi dapat didefinisikan sebagai keterampilan mengatur bahan cetak secara baik dengan tujuan tertentu; seperti mengatur tulisan, membagi-bagi ruang/spasi, dan menata/menjaga huruf untuk membantu secara maksimal agar pembaca memahami teks. Typography merupakan cara hemat untuk benar-benar membuat bermanfaat dan hanya secara kebetulan mencapai hasil estetis, oleh karena menikmati pola-pola, jarang sekali menjadi tujuan utama.”
Ilmu tipografi digunakan pada banyak bidang diantaranya desain grafis, desain web, percetakan, majalah, desain produk dll. Tipografi digunakan oleh para desainer untuk berkomunikasi dengan pembacanya secara visual agar maksud dari tulisan lebih mudah difahami.
2. Sejarah Perkembangan Tipografi
Sejarah perkembangan tipografi dimulai dari penggunaan pictograph. Bentuk bahasa ini antara lain dipergunakan oleh bangsa Viking Norwegia dan Indian Sioux. Di Mesir berkembang jenis huruf Hieratia, yang terkenal dengan nama Hieroglif pada sekitar abad 1300 SM. Bentuk tipografi ini merupakan akar dari bentuk Demotia, yang mulai ditulis dengan menggunakan pena khusus.
Puncak perkembangan tipografi, terjadi kurang lebih pada abad 8 SM di Roma saat orang Romawi mulai membentuk kekuasaannya. Karena bangsa Romawi tidak memiliki sistem tulisan sendiri, mereka mempelajari sistem tulisan Etruska yang merupakan penduduk asli Italia serta menyempurnakannya sehingga terbentuk huruf-huruf Romawi.
Saat ini tipografi mengalami perkembangan dari fase penciptaan dengan tangan hingga mengalami komputerisasi. Fase komputerisasi membuat penggunaan tipografi menjadi lebih mudah dan dalam waktu yang lebih cepat dengan jenis pilihan huruf yang ratusan jumlahnya.
3. Anatomi huruf dalam tipografi
Setiap bentuk huruf dalam sebuah alfabet memiliki keunikan fisik yang menyebabkan mata kita dapat membedakan antara huruf ‘m’ dengan ‘p’ atau ‘C’ dengan ‘Q’. Keunikan ini disebabkan oleh cara mata kita melihat korelasi antara komponen visual yang satu dengan yang lain. Sekelompok pakar psikologi dari Jerman dan Austria pada tahun 1900 memformulasikan sebuah teori yang dikenal dengan teori Gestalt. Teori ini berbasis pada ‘pattern seeking’ dalam perilaku manusia. Setiap bagian dari sebuah gamabar dapat dianalsisi dan dievaluasi sebagai komponen yang berbeda. Salah satu hukum persepsi dan teori ini membuktikan bahwa untuk mengenal atau ‘membaca’ sebuah gambar diperluakan adanya kontras atara ruang positif yang disebut dengan figure dan ruang negatis yang disbut dengan ground.
4. Jenis-jenis Huruf
Berikut ini beberapa jenis huruf berdasarkan klasifikasi yang dilakukan oleh James Craig, antara lain sbb :
· Roman
Ciri dari huruf ini adalah memiliki sirip/kaki/serif yang berbentuk lancip pada ujungnya. Huruf Roman memiliki ketebalan dan ketipisan yang kontras pada garis-garis hurufnya. Kesan yang ditimbulkan adalah klasik, anggun, lemah gemulai dan feminin.
Ciri dari huruf ini adalah memiliki sirip/kaki/serif yang berbentuk lancip pada ujungnya. Huruf Roman memiliki ketebalan dan ketipisan yang kontras pada garis-garis hurufnya. Kesan yang ditimbulkan adalah klasik, anggun, lemah gemulai dan feminin.
· Egyptian
Adalah jenis huruf yang memiliki ciri kaki/sirip/serif yang berbentuk persegi seperti papan dengan ketebalan yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulakn adalah kokh, kuat, kekar dan stabil.
Adalah jenis huruf yang memiliki ciri kaki/sirip/serif yang berbentuk persegi seperti papan dengan ketebalan yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulakn adalah kokh, kuat, kekar dan stabil.
· SansSerif
Pengertian San Serif adalah tanpa sirip/serif, jadi huruf jenis ini tidak memiliki sirip pada ujung hurufnya dan memiliki ketebalan huruf yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulkan oleh huruf jenis ini adalah modern, kontemporer sama.
Pengertian San Serif adalah tanpa sirip/serif, jadi huruf jenis ini tidak memiliki sirip pada ujung hurufnya dan memiliki ketebalan huruf yang sama atau hampir sama. Kesan yang ditimbulkan oleh huruf jenis ini adalah modern, kontemporer sama.
· Script
Huruf Script menyerupai goresan tangan yang dikerjakan dengan pena, kuas atau pensil tajam dan biasanya miring ke kanan. Kesan yang ditimbulkannya adalah sifast pribadi dan akrab.
Huruf Script menyerupai goresan tangan yang dikerjakan dengan pena, kuas atau pensil tajam dan biasanya miring ke kanan. Kesan yang ditimbulkannya adalah sifast pribadi dan akrab.
· Miscellaneous
Huruf jenis ini merupakan pengembangan dari bentuk-bentuk yang sudah ada. Ditambah hiasan dan ornamen, atau garis-garis dekoratif. Kesan yang dimiliki adalah dekoratif dan ornamental.
Huruf jenis ini merupakan pengembangan dari bentuk-bentuk yang sudah ada. Ditambah hiasan dan ornamen, atau garis-garis dekoratif. Kesan yang dimiliki adalah dekoratif dan ornamental.
Dalam pemilihan jenis huruf, yang senantiasa harus diperhatikan adalah karakter produk yang akan ditonjolkan dan juga karakter segmen pasarnya. Seperti misalnya pada produk minyak wangi untuk wanita jarang yang menggunakan jenis huruf Egyptian karena berkesan kuat dan keras dan biasanya mempergunakan jenis huruf Roman yang bernuansa klasik dan lembut sehingga cocok dengan karakter minyak wangi dan wanita.
Pengetahuan Warna
Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menemukan berbagai warna yang sangat beraneka ragam. Tetapi, tahukah anda bahwa warna itu terbagi dalam berapa jenis? Secara biologis, mata kita dapat mengangkap warna dikarenakan spektrum cahaya yang di pantulkan benda-benda disekeliling kita ke indra penglihatan kita yaitu mata lalu diproses oleh otak kita menjadi warna-warna tertentu sumber cahaya bisa dari matahari atau sumber cahaya buatan. Dalam artikel berikut anda akan mengenal teori tentang warna serta pembagian jenis-jenisnya.
Warna dapat didefinisikan secara obyektif/fisik sebagai sifat cahaya yang dipancarkan, atau secara subyektif/psikologis merupakan bagian dari pengalaman indera pengelihatan. Secara obyektif atau fisik, warna dapat diberikan oleh panjang gelombang. Dilihat dari panjang gelombang, cahaya yang tampak oleh mata merupakan salah satu bentuk pancaran energi yang merupakan bagian yang sempit dari gelombang elektromagnetik.
Cahaya yang dapat ditangkap indera manusia mempunyai panjang gelombang 380 sampai 780 nanometer. Cahaya antara dua jarak nanometer tersebut dapat diurai melalui prisma kaca menjadi warna-warna pelangi yang disebut spectrum atau warna cahaya, mulai berkas cahaya warna ungu, violet, biru, hijau, kuning, jingga, hingga merah. Di luar cahaya ungu /violet terdapat gelombang-gelombang ultraviolet, sinar X, sinar gamma, dan sinar cosmic. Di luar cahaya merah terdapat gelombang / sinar inframerah, gelombang Hertz, gelombang Radio pendek, dan gelombang radio panjang, yang banyak digunakan untuk pemancaran radio dan TV.
Proses terlihatnya warna adalah dikarenakan adanya cahaya yang menimpa suatu benda, dan benda tersebut memantulkan cahaya ke mata (retina) kita hingga terlihatlah warna. Benda berwarna merah karena sifat pigmen benda tersebut memantulkan warna merah dan menyerap warna lainnya. Benda berwarna hitam karena sifat pigmen benda tersebut menyerap semua warna pelangi. Sebaliknya suatu benda berwarna putih karena sifat pigmen benda tersebut memantulkan semua warna pelangi. Sebagai bagian dari elemen tata rupa, warna memegang peran sebagai sarana untuk lebih mempertegas dan memperkuat kesan atau tujuan dari sebuah karya desain. Dalam perencanaan corporate identity, warna mempunyai fungsi untuk memperkuat aspek identitas.
Lebih lanjut dikatakan oleh Henry Dreyfuss , bahwa warna digunakan dalam simbol-simbol grafis untuk mempertegas maksud dari simbol-simbol tersebut . Sebagai contoh adalah penggunaan warna merah pada segitiga pengaman, warna-warna yang digunakan untuk traffic light merah untuk berhenti, kuning untuk bersiap-siap dan hijau untuk jalan. Dari contoh tersebut ternyata pengaruh warna mampu memberikan impresi yang cepat dan kuat. Kemampuan warna menciptakan impresi, mampu menimbulkan efek-efek tertentu. Secara psikologis diuraikan oleh J. Linschoten dan Drs. Mansyur tentang warna sbb: Warna-warna itu bukanlah suatu gejala yang hanya dapat diamati saja, warna itu mempengaruhi kelakuan, memegang peranan penting dalam penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya kita akan bermacam-macam benda. Dari pemahaman diatas dapat dijelaskan bahwa warna, selain hanya dapat dilihat dengan mata ternyata mampu mempengaruhi perilaku seseorang, mempengaruhi penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya seseorang pada suatu benda.
1. Pembagian warna
Menurut teori warna dari Teori Brewster yang pertama kali dikemukakan pada tahun 1831. Warna-warna yang ada di alam jika disederhanakan dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok warna, yaitu Warna Primer, warna Sekunder, warna Tersier dan warna Netral. dan ini diwujudkan dalam bentuk lingkaran warna, lingkaran warna brewster mampu menjelaskan teori kontras warna (komplementer), split komplementer, triad, dan tetrad.
2. Warna Primer
Warna primer merupakan warna dasar yang tidak dicampur dengan warna yang lainnya. Warna primer terdiri dari 3 warna dasar yaitu Red Green dan Blue biasa disingkat RGB atau dalam bahasa indonesia Merah, hijau biru dalam dunia seni rupa dikenal sebagai warna pigmen. Warna lain terbentuk dari kombinasi warna Primer itu sendiri, warna-warna hasil dari 2 warna primer disebut dengan istilah Warna Sekunder dan campuran dari warna primer dengan sekunder disebut warna Tersier. Warna-warna tersebut jika digolongkan lagi menjadi dua golongan yaitu warna cahaya dan warna cetak RGB sendiri merupakan jenis warna primer dari cahaya warna-warna RGB biasa kita temui dari digital visual seperti Televisi atau monitor komputer dll. sedangkan yang digolongkan dengan warna primer cetak terdiri dari Cyan, Magenta, Yellow dan Black warna-warna ini biasa ditemukan pada industri percetakan atau printing dihasilkan dari kombinasi tinta dan dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari seperti pada buku, billboard, poster dan media cetak lainnya.
3. Warna Sekunder
Merupakan hasil pencampuran dari warna-warna primer dengan perbandingan 1:1. Pencampuran tersebut menghasilkan warna baru yang dinamakan warna sekunder. Kita lihat pencampuran warna berikut :
· Kuning + merah = orange
· Kuning + biru = hijau
· Biru + merah = ungu
4. Warna Tersier
Warna tersier adalah hasil pencampuran warna primer dengan warna sekunder. Kita lihat contoh campuran berikut
· Kuning + orange= kuning orange (golden yellow)
· Merah + orange= merah orange (burnt orange)
· Kuning + hijau= kuning hijau (lime green)
· Biru + hijau= biru hijau (turquoise)
· Biru + ungu= biru ungu (indigo)
· Merah+ ungu= merah ungu (crimson)
5. Warna Netral
Warna netral adalah hasil pencampuran dari warna primer, warna sekunder dan warna tersier. Warna netral ini tidak mengarah ke tiga warna utama tersebut karena pencampuran warna bisa dalam komposisi yang berbeda.
6. Definisi Karakter lewat warna
Warna juga mendefinisikan karakter seseorang secara umum, seperti warna-warna berikut :
· Hitam, sebagai warna yang tertua (gelap) dengan sendirinya menjadi lambang untuk sifat gulita dan kegelapan (juga dalam hal emosi).
· Putih, sebagai warna yang paling terang, melambangkan cahaya, kesucian.
· Abu-abu, merupakan warna yang paling netral dengan tidak adanya sifat atau kehidupan spesifik.
· Merah, bersifat menaklukkan, ekspansif (meluas), dominan (berkuasa), aktif dan vital (hidup), panas membara, peringatan, penyerangan, cinta.
· Kuning, dengan sinarnya yang bersifat kurang dalam, merupakan wakil dari hal-hal atau benda yang bersifat cahaya, momentum dan mengesankan kebahagiaan, keceriaan dan hati-hati
· Biru, sebagai warna yang menimbulkan kesan dalamnya sesuatu (dediepte), sifat yang tak terhingga dan transenden, disamping itu memiliki sifat tantangan.
· Hijau, mempunyai sifat keseimbangan dan selaras, membangkitkan ketenangan dan tempat mengumpulkan daya-daya baru, identik dengan pertumbuhan dalam lingkungan,pasukan perdamaian,kepuasan
· Pink, warna yang identik dengan wanita, menarik/cantik, gulali
· Orange, warna yang identik dengan musim gugur, penuh kehangatan, halloween.
· Coklat, warna yang mengesankan hangat, identik dengan musim gugur, kotor, bumi
· Ungu, warna yang identik dengan kesetiaan, kepuasan, Barney (tokoh boneka berwarna ungu)
Dari sekian banyak warna, dapat dibagi dalam beberapa bagian yang sering dinamakan dengan sistem warna Prang System yang ditemukan oleh Louis Prang pada 1876 atau disebut juga sebagai atribut warna meliputi :
· Hue, adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan nama dari suatu warna, seperti merah, biru, hijau dsb.
· Value, adalah dimensi kedua atau mengenai terang gelapnya warna. Contohnya adalah tingkatan warna dari putih hingga hitam.
· Saturation/Intensity, seringkali disebut dengan chroma, adalah dimensi yang berhubungan dengan cerah atau suramnya warna.
Selain Prang System terdapat beberapa sistem warna lain yakni, CMYK atau Process Color System, Munsell Color System, Ostwald Color System, Schopenhauer/Goethe Weighted Color System, Substractive Color System serta Additive Color/RGB Color System. Diantara bermacam sistem warna diatas, kini yang banyak dipergunakan dalam industri media visual cetak adalah CMYK atau Process Color System yang membagi warna dasarnya menjadi Cyan, Magenta, Yellow dan Black. Sedangkan RGB Color System dipergunakan dalam industri media visual elektronika.
7. Kriteria pemilihan warna
· Tampilkan warna dengan latar belakang (background) gelap
· Pilih warna yang cerah untuk foreground (putih,hijaudll)
· Hindari penggunaan warna coklat dan hijau untuk background
· Kecerahan dan kombinasi warna pada foreground dan background kontras
· Gunakan warna sesuai kebutuhan,disain dibuat dalam b/w dan ditambahkan warna lain sesuai kebutuhan
· Gunakan warna untuk menarik perhatian user, komunikasi terarah, identifikasi status, menjalin hubungan antar elemen
· Hindari penggunaan warna pada pekerjaan yang sifatnya non-task, untuk layar yang kebanyakan terdiri dari teks, warna dapat membantu ketika user harus mencari /membedakan bagian2 tertentu
8. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan warna
· Buta warna (cacat warna)
· Monitor monochrome (hanya mengenal satu warna)
· Pengkodean ekstra meningkatkan tampilan interface
· Konsisten dalam penggunaan warna
· Membatasi pengkodean warna menjadi 8 warna (4 warnalebih baik)
· Gunakan warna b/w atau abu-abu, atau b/w saja untuk tampilan interface
· Untuk menunjukkan keragaman bagian-bagian pada layar
· Disainer sering menggunakan layar kerja dengan menggunakan 4-5 warna
Digital Input
Gambar digital dapat diperoleh dari berbagai sumber dimana tiap sumber sangat menentukan kualitas gambar tersebut, antara lain : Digital camera, Scanner, Photo CD, dan Internet.
1. Digital Camera
Saat ini digital camera menjadi sangat populer menggantikan posisi scanner. Kelebihan digital camera antara lain hasil foto dapat langsung dihubungkan ke komputer tanpa harus memulai proses pencetakan photo/slide sehingga prosesnya sangat cepat. Sama seperti scanner, digital camera menggunakan CCD (Charged Couple Device) untuk menangkap gambar. Semakin tinggi resolusi CCD maka semakin baik/besar gambar yang dapat diolah dan semakin besar pula file size gambar tersebut. Ada 2 jenis tipe digital camera, yaitu High-End dan Low-End. Perbedaan ini antara lain adalah ditentukan jumlah pixel yang dapat dihasilkan oleh kamera tersebut.
Hubungan resolusi digital camera dengan ukuran cetak
Kualitas
|
Resolusi Standar (pixel)
|
Ukuran Cetak (cm)
| ||
128 dpi/85 lpi
|
200 dpi/133lpi
|
225 dpi/150 lpi
| ||
Lowres
|
320 x 240
|
6,4 x 4,8
|
4,1 x 3,1
|
3,6 x 2,7
|
640 x 480
|
12,7 x 9,5
|
8,1 x 6,1
|
7,2 x 5,4
| |
Medium
|
1280 x 1000
|
25,4 x 19,8
|
16,3 x 12,1
|
14,5 x 11,3
|
1500 x 1100
|
29,8 x 21,8
|
19,1 x 13,8
|
16,9 x 12,4
| |
Highres
|
2000 x 2000
|
39,7 x 39,7
|
25,4 x 25,4
|
22,6 x 22,6
|
4000 x 4000
|
79,4 x 79,4
|
50,1 x 50,1
|
45,2 x 45,2
| |
6000 x 8000
|
76,2 x 101,6
|
76,2 x 101,6
|
67,7 x 90,3
| |
2. Scanner
Scanner berfungsi mengubah data analog (foto, slide, printed material, cetakan, 3D) menjadi data digital. Pada prinsipnya teknologi scanner terbagi atas :
a. Flatbed Scanner
Flatbed scanner sering disebut sebagai Low end scanner, namun istilah ini tidaklah begitu tepat karena saat ini teknologi CCD yang identik digunakan oleh flatbed scanner sudah sedemikian canggih hampir menyaingi teknologi PMT (Photo multiplier) yang identik digunakan oleh drum scanner. Saat ini harga flatbed scanner sangatlah bervariasi, mulai dari dibawah Rp.500.000,00 sampai diatas 100 juta rupiah. Perlu ketelitian saat membeli dan harus disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaannya.
b. Drum Scanner
Drum scanner sering disebut sebagai High end scanner dan scanner yang paling baik dalam mereproduksi gambar dengan ukuran pembesaran diatas 500 %. Ciri khas drum scanner adalah digunakannya PMT (Photomutiplier) sebagai sensor yang membaca gambar atau original. Disebut drum scanner karena objek yang akan discan diletakkan pada sebuah drum yang berputar dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sejak adanya perkembangan teknologi CCD yang sangat pesat, maka lambat laun drum scanner mulai tersaingi dan pada akhirnya mulai discontinue (tidak diproduksi lagi), karena tidak dapat mengimbangi harga flatbed scanner yang relatif jauh lebih murah.
Keunggulan drum scanner bila dibandingkan dengan flatbed scanner :
· Photomutiplier yang dipakai oleh drum scanner untuk membaca original memiliki jangkauan density (density range) yang tinggi yaitu berkisar 4.0 D keatas, sehingga mampu membaca detail shadow pada slide positif yang rata-rata memiliki density 3.8-4.2 D. Sementara CCD yang dipakai oleh flatbed scanner memiliki density maximum dibawah 3.6 D, sehingga bila dipakai untuk scan slide yang memiliki density diatas 3.6 D hasilnya akan flat (tidak ada detail) pada bagian shadow.
· Drum scanner memiliki resolusi optik yang tinggi, hal ini mempengaruhi dalam hal pembesaran gambar. Semakin tinggi resolusi scanner maka pembesaran yang dapat dilakukan juga semakin besar hingga mencapai 4000%, dimana hal ini sulit dilakukan oleh flatbed scanner.
Perbedaan drum scanner dan flatbed scanner
Perbedaan
|
Flatbed scanner
|
Drum scanner
|
1. Sumber Cahaya
|
Flouresent
|
Xenon-Laser
|
2. Scanning Unit
|
CCD (Charge Couple Device)
|
PMT (Photomultiplier)
|
3. Original
|
Tebal > 0,5 cm, 3 dimensi
|
Tipis < 0,5 cm
|
4. Scanning
|
Line by line
|
Dot by dot
|
5. Dynamic Range
|
< 3,6 D
|
> 4,2 D
|
6. Optical Resolution
|
Medium to High < 5400 dpi
|
s.d 11.000 dpi
|
7. Harga
|
Murah-sedang
|
Mahal
|
8. Software
|
Plug-in Photoshop
|
Menggunakan software sendiri
|
c. Copydot Scanner
Copydot Scanner adalah scanner yang berfungsi mengubah data berupa film separasi (4 warna atau lebih) menjadi data digital (redigitalization). Scanner ini banyak digunakan pada percetakan/penerbitan yang banyak menerima iklan dalam bentuk film separasi warna atau perusahaan packaging yang sering mengulang cetakan dengan film yang sama. Pada alur kerja yang menggunakan CtP, scanner copy dot menjadi salah satu hal yang penting oleh karena iklan atau data yang diberikan klien tidak dapat dimounting dengan pelat CtP melainkan harus diubah kedalam bentuk digital dahulu.
Hal-hal yang perlu diperhatikan saat melakukan copydot antara lain : Screen ruling, Sudut raster, base film density (warna dasar film). Hal-hal tersebut akan mempengaruhi kualitas dan keakuratan data digital dari scanner copydot tersebut.
3. Photo CD
Photo CD sering dipakai dan dibeli orang untuk memilih berbagai gambar digital yang diinginkan (stok foto) secara langsung tanpa melalui scanner. Penggunaannya untuk produksi cetak haruslah hati-hati karena pada umumnya gambar yang dibuat pada photo CD dibuat dalam 5 macam resolusi untuk setiap gambarnya yaitu : Base/16, Base/4, Base, 4 Base, 16 Base. Untuk kalangan profesional biasanya disediakan alternatif resolusi lain yaitu 64 base (Pro Photo CD), misalnya Pro Photo CD dari Corel.
Panduan resolusi photo CD dan hubungannya dengan ukuran cetak
Pilihan
|
Resolusi (pixel)
|
Ukuran maksimum cetak (cm)
| |||
225 dpi/150 lpi
|
200 dpi/133 lpi
|
128 dpi/85 lpi
|
Ukuran
| ||
Base/16
|
128 x 192
|
2,5 x 3,8
|
1,6 x 2,4
|
1,4 x 2,2
|
72 K
|
Base/4
|
256 x 384
|
5,1 x 7,6
|
3,3 x 4,9
|
2,9 x 4,3
|
288 K
|
Base
|
512 x 768
|
10,2 x 15,2
|
6,5 x 9,8
|
5,8 x 8,7
|
1,1 MB
|
4 Base
|
1024 x 1536
|
20,3 x 30,5
|
13 x 19,5
|
11,6 x 17,3
|
4,5 MB
|
16 Base
|
2048 x 3072
|
40,6 x 60,1
|
26 x 39
|
23,1 x 34,7
|
18 MB
|
64 base
|
4096 x 6114
|
81,3 x 121,9
|
52 x 78
|
46,2 x 69,4
|
72 MB
|
4. Internet
Gambar yang diambil dari internet biasanya dalam format JPEG (format kompresi) karenanya file menjadi sangat kecil dan resolusi rendah sehingga tidak direkomendasi untuk produksi cetak karena kualitasnya akan kurang baik. Gambar dengan file JPEG baik untuk presentasi dan pembuatan website dan dioutput ke printer biasa.
Workstation
Dalam dunia grafika, platform yang biasa dipakai adalah :
1. PC-Operating system Win 2000, Win 98, Windows XP, Linux, dll.
2. Macintosh-Operating system OS 9.0x, OS 10.X
Pada mulanya PC tidak diciptakan untuk pengolahan gambar dan desain grafis, tapi hanya untuk mengetik teks untuk keperluan kantor. Namun saat ini teknologi PC sudah mampu menyaingi Macintosh dalam mengolah gambar. Saat ini hampir semua software yang bekerja pada Mac dapat juga dilakukan di PC. Saat ini perkembangan operating system pada Macintosh juga mengalami kemajuan yang sangat pesat. Munculnya seri OS X tahun 2003-an yang memiliki penampilan yang sangat berbeda dengan operating system yang lama (OS 9.0) membuat kalangan desain grafis dan pracetak harus menyesuaikan dan beradaptasi kembali. Pada OS X ada beberapa software yanng tidak kompatibel misalnya Pagemaker 6.5, Photoshop 6.0, Freehand 9.0, QuarkXpress 4.0 dll. Sementara itu pada PC, operating system yang banyak digunakan antara lain Win 98, Win 2000, Win XP. Pemahaman dalam penggunaan operating system sangat berpengaruh terhadap kelancaran kerja. Komputer yang mempunyai banyak virus, memori kecil, harddisk penuh, management file yang tidak rapi, sering hang,dll adalah beberapa contoh yang mempengaruhi dan memperlambat kinerja PC/Mac yang digunakan.
Software
Pada umumnya software dalam dunia grafika terbagi atas 3 bagian :
1. Page Layout
Software ini digunakan untuk menata letak halaman, yaitu menggabungkan elemen-elemen desain yang berupa teks, grafik dan foto. Contoh software page lay out yang bisa digunakan adalah Adobe Pagemaker, QuarkXpress, dan Adobe Indesign. Software-software tersebut cocok untuk pembuatan majalah, buku, brosur, dll.
2. Illustrasi/Desain
Software ilustrasi berfungsi untuk mengolah ilustrasi desain. Gambar yang dihasilkan oleh software ini adalah gambar grafik yang berbentuk vektor, yaitu gambar yang dibentuk melalui garis dan kurva secara matematis. Contoh software ilustrasi/desain adalah Macromedia Freehand, Adobe Illustrator, CorelDraw, dll.
3. Image Editing
Software image editing menghasilkan gambar bitmap, yaitu gambar yang dihasilkan melalui titik yang disebut dengan istilah pixel. Software ini memiliki kemampuan untuk memanipulasi foto dan koreksi warna. Contoh software image editing adalah Adobe Photoshop, Photo Paint, dan Fractal Design Painter. Software Microsoft Office seperti Microsoft Word, Excel, Power Point tidak direkomendasi untuk digunakan dalam pengolahan data yang akan direproduksi dengan cetak offset, karena software tersebut tidak diciptakan untuk keperluan grafis.
File Format
Banyak sekali jenis-jenis gambar yang dapat kita temukan diinternet maupun komputer kita sendiri, tapi tidak semuanya kita gunakan. Beberapa gambar digunakan oleh perangkat lunak yang terpasang dikomputer kita, sehingga tidak bisa dilihat langsung tanpa menggunakan perangkat lunak khusus. Berikut ini beberapa jenis-jenis gambar yang sering digunakan.
1. JPG/JPEG (Joint Photographic Expert Group)
Format file ini mampu mengkompres objek dengan tingkat kualitas sesuai dengan pilihan yang disediakan. Format file sering dimanfaatkan untuk menyimpan gambar yang akan digunakan untuk keperluan halaman web, multimedia, dan publikasi elektronik lainnya. Format file ini mampu menyimpan gambar dengan mode warna RGB, CMYK, dan Grayscale. Format file ini juga mampu menyimpan alpha channel, namun karena orientasinya ke publikasi elektronik maka format ini berukuran relatif lebih kecil dibandingkan dengan format file lainnya.
2. GIF (Graphic Interchange Format)
Format file ini hanya mampu menyimpan dalam 8 bit (hanya mendukung mode warna Grayscale, Bitmap dan Indexed Color). Format file ini merupakan format standar untuk publikasi elektronik dan internet. Format file mampu menyimpan animasi dua dimensi yang akan dipublikasikan pada internet, desain halaman web dan publikasi elektronik. Format file ini mampu mengkompres dengan ukuran kecil menggunakan kompresi LZW.
3. PNG (Portable Network Graphic)
Format file ini berfungsi sebagai alternatif lain dari format file GIF. Format file ini digunakan untuk menampilkan objek dalam halaman web. Kelebihan dari format file ini dibandingkan dengan GIF adalah kemampuannya menyimpan file dalam bit depth hingga 24 bit serta mampu menghasilkan latar belakang (background) yang transparan dengan pinggiran yang halus. Format file ini mampu menyimpan alpha channel.
4. PSD (Photoshop Document)
Format file ini merupakan format asli dokumen Adobe Photoshop. Format ini mampu menyimpan informasi layer dan alpha channel yang terdapat pada sebuah gambar, sehingga suatu saat dapat dibuka dan diedit kembali. Format ini juga mampu menyimpan gambar dalam beberapa mode warna yang disediakan Photoshop. Anda dapat menyimpan dengan format file ini jika ingin mengeditnya kembali.
5. BMP (Bitmap Image)
Format file ini merupakan format grafis yang fleksibel untuk platform Windows sehingga dapat dibaca oleh program grafis manapun. Format ini mampu menyimpan informasi dengan kualitas tingkat 1 bit samapi 24 bit. Kelemahan format file ini adalah tidak mampu menyimpan alpha channel serta ada kendala dalam pertukaran platform. Untuk membuat sebuah objek sebagai desktop wallpaper, simpanlah dokumen Anda dengan format file ini. Anda dapat mengkompres format file ini dengan kompresi RLE. Format file ini mampu menyimpan gambar dalam mode warna RGB, Grayscale, Indexed Color, dan Bitmap.
6. EPS (Encapsuled Postcript)
Format file ini merupakan format yang sering digunakan untuk keperluan pertukaran dokumen antar program grafis. Selain itu, format file ini sering pula digunakan ketika ingin mencetak gambar. Keunggulan format file ini menggunakan bahasa postscript sehingga format file ini dikenali oleh hampir semua program persiapan cetak. Kelemahan format file ini adalah tidak mampu menyimpan alpha channel, sehingga banyak pengguna Adobe Photoshop menggunakan format file ini ketika gambar yang dikerjakan sudah final. Format file ini mampu menyimpan gambar dengan mode warna RGB, CMYK, Lab, Duotone, Grayscale, Indexed Color, serta Bitmap. Selain itu format file ini juga mampu menyimpan clipping path.
7. TIF (Tagged Image Format File)
Format file ini mampu menyimpan gambar dengan kualitas hingga 32 bit. Format file ini juga dapat digunakan untuk keperluan pertukaran antar platform (PC, Machintosh, dan Silicon Graphic). Format file ini merupakan salah satu format yang dipilih dan sangat disukai oleh para pengguna komputer grafis terutama yang berorientasi pada publikasi (cetak). Hampir semua program yang mampu membaca format file bitmap juga mampu membaca format file TIF.
8. PCX
Format file ini dikembangkan oleh perusahaan bernama Zoft Cooperation. Format file ini merupakan format yang fleksibel karena hampir semua program dalam PC mampu membaca gambar dengan format file ini. Format file ini mampu menyimpan informasi bit depth sebesar 1 hingga 24 bit namun tidak mampu menyimpan alpha channel. Format file ini mampu menyimpan gambar dengan mode warna RGB, Grayscale, Bitmpa dan Indexed Color.
9. PIC (Pict)
Format file ini merupakan standar dalam aplikasi grafis dalam Macintosh dan program pengolah teks dengan kualitas menengah untuk transfer dokumen antar aplikasi. Format file ini mampu menyimpan gambar dengan mode warna RGB dengan 1 alpha channel serta Indexed Color, Grayscale dan Bitmap tanpa alpha channel. Format file ini juga menyediakan pilihan bit antara 16 dan 32 bit dalam mode warna RGB.
10. TGA (Targa)
Format file ini didesain untuk platform yang menggunakan Targa True Vision Video Board. Format file ini mampu menyimpan gambar dengan mode warna RGB dalam 32 bit serta 1 alpha channel, juga Grayscale, Indexed Color, dan RGB dalam 16 atau 24 bit tanpa alpha channel. Format file ini berguna untuk menyimpan dokumen dari hasil render dari program animasi dengan hasil output berupa sequence seperti 3D Studio Max.
11. IFF (Interchange File Format)
Format file ini umumnya digunakan untuk bekerja dengan Video Toaster dan proses pertukaran dokumentasi dari dan ke Comodore Amiga System. Format file ini dikenali hampir semua program grafis yang terdapat dalam PC serta mampu menyimpan gambar dengan mode warna Bitmap. Format file ini tidak mampu menyimpan alpha channel.
12. SCT (Scitex Continous Tone)
Format file ini digunakan untuk menyimpan dokumen dengan kualitas tinggi pada komputer Scitex. Format file ini mampu menyimpan gambar dengan mode warna RGB, CMYK, dan Grayscale namun tidak mampu menyimpan alpha channel.
13. PXR (Pixar)
Format file ini khusus untuk pertukaran dokumen dengan Pixar Image Computer. Format file ini mampu menyimpan gambar dengan mode warna RGB dan Grayscale dengan 1 alpha channel.
14. RAW
Format file ini merupakan format file yang fleksibel untuk pertukaran dokumen antar aplikasi dan platform. Format file ini mampu menyimpan mode warna RGB, CMYK, dan Grayscale dengan 1 alpha channel serta mode warna Multichannel, Lab Color dan Duotone tanpa alpha channel.
15. DCS (Dekstop Color Separation)
Format file ini dikembangkan oleh Quark dan merupakan format standar untuk .eps. Format ini mampu menyimpan gambar dengan mode warna Multichannel dan CMYK dengan 1 alpha channel dan banyak spot channel. Format file ini mampu menyimpan clipping path dan sering digunakan untuk proses percetakan (publishing). Ketika menyimpan file dalam format ini maka yang akan tersimpan adalah 4 channel dari gambar tersebut dan 1 channel preview.
Vektor vs Bitmap
Digital image mempunyai dua bentuk, yaitu bitmap dan vektor. Masing-masing bentuk kelebihan dan kekurangan.
1. Bitmap
· Menggunakan pixel dalam membentuk gambar.
· Contoh data bitmap adalah photo hasil scan/digital camera
· Dibuat dan diolah di Photoshop
· Merupakan resolution dependent, yaitu kualitas gambar tergantung resolusi/jumlah pixel yang membentuknya
· Jumlah resolusi yang diperlukan dalam cetak offset menggunakan rumus : 2 x screen ruling
· Format yang digunakan antara lain : TIFF, EPS, JPEG
· Pembesaran gambar dengan cara ditarik pada software lain, menyebabkan kualitas gambar menurun. Dalam praktek sehari-hari istilah bitmap mempunyai 2 arti yang berbeda, yaitu menunjuk gambar hasil scan dan menunjuk pada gambar bilevel (1 bit)
2. Vektor
· Menggunakan formula matematik untuk menghubungkan point (titik) yang satu terhadap yang lainnya. Dinyatakan dalam bentuk garis, kurva dan bidang
· Biasanya disebut juga graphics/grafis
· Diolah di Freehand atau Illustrator atau CorelDraw
· Contoh data vektor/graphic adalah garis, teks, drawing
· Merupakan resolution independent, yaitu objek/gambar dapat diperbesar tanpa membuat objek menjadi pecah/jagged.
· Kualitas vektor tergantung resolusi output
· File format standar yang digunakan adalah .eps (Encapsulated Postcript).
REPRO
Foto Reproduksi
Fotoreproduksi sebagai salah satu kegiatan dalam proses penyiapan barang cetakan memiliki peran cukup tinggi untuk menghasilkan suatu hasil cetakan. Dalam pekerjaan fotoreproduksi terdapat 3 kegiatan utama, yaitu pemotretan, montase dan pembuatan acuan cetak. Pada prinsipnya kegiatan reproduksi terbagi dalam 2 bagian besar, yaitu:
a) Reproduksi Hitam Putih
b) Reproduksi Pemisahan Warna
Pemotretan dikenal juga dengan istilah fotografi, yaitu berasal dari kata foto yang berarti cahaya dan grafi yang berarti menulis atau menggambar. Maka berdasar pengertian tersebut, fotografi diartikan sebagai tulisan atau gambaran yang dikerjakan dengan cahaya. Untuk mendapatkan hasil dari fotografi, maka dilakukan langkah sebagai berikut :
a) Pembentukan bayangan tajam
b) Perekaman bayangan menggunakan cahaya/penyinaran
c) Pemrosesan bayangan yang direkam menjadi nyata
Pada proses fotografi, maka prinsip pengerjaannya tidak terlepas dari masalah tentang cahaya dan bahan peka cahaya. Karena cahaya merupakan suatu bentuk tenaga elektromagnetik dari sumbernya, maka bahaya merupakan tenaga yang dapat membentuk gambar bayangan (latent image).
Cahaya berperan penting dalam pembentukan gambar bayangan terhadap lapisan bahan peka cahaya yang berupa elmusi. Bahan peka cahaya tersebut merupakan lapisan selatin yang mengandung persenyawaan perak halida yang akan terurai persenyawaan peraknya apabila terkena sinar/cahaya.
Banyak sedikitnya peruraian tergantung dari intensitas cahaya yang menyinarinya. Akibat peruraian akan timbul bentuk bayangan yang belum terlihat disebut dengan latent image. Melalui proses lainnya maka bayangan itu menjadi nyata dan terlihat dengan jelas. Untuk membentuk bayangan suatu gambar atau image dipergunakan bahan peka cahaya yang disebut dengan film sensitif.
Dalam fotoreproduksi film dipergunakan untuk memperoleh gamabr negative atau positif yang dipergunakan untuk keperluan pembuatan pelat dan klise.
Film untuk keperluan grafika terdiri dari:
a) Film lith yaitu film yang dipergunakan untuk pemotretan berbentuk teks, gambar garis, gambar beraster dan pemotretan raster.
b) Film nada penuh yaitu film yang dipergunakan untuk pemotretan nada penuh baik hitam putih maupun berwarna.
Menurut kepekaan cahaya, film terbagi menjadi 3 golongan yaitu:
a) Blue sensitive film yaitu dilm yang peka terhadap cahaya biru. Dalam prosesnya dipergunakan lampu pengaman merah.
b) Orthochromatic yaitu film yang peka terhadap cahaya biru hijau dan sedikit kuning, yang dalam prosesnya dapat dikerjakan dengan dengan lampu pengaman merah.
c) Panchromatic yaitu film yang peka terhadap semua warna cahaya, sehingga dalam prosesnya harus dilakukan dalam keadaan yang gelap total.
Imposisi
Imposisi adalah tahap penggabungan beberapa halaman/ film agar ketika dicetak susunan halaman sesuai dengan yang direncanakan. Imposisi atau montase dapat dilakukan secara manual dan elektronik.
Istilah lain yang digunakan dalam imposisi adalah montase atau penyusunan halaman untuk siap dicetak. Ada 2 cara imposisi, yaitu manual dan elektronik.
1. Imposisi Manual
Lembaran film yang dioutput dari imagesetter disusun secara manual dengan ukuran pelat dan mesin cetak yang digunakan. Kelemahan sistem ini adalah waktu pengerjaan yang lama dan sering terjadi missregister (human error) juga perubahan dot dan imposisi manual ini hanya terjadi pada sistem Computer to Film (imagesetter).
2. Imposisi Elektronik
Pada sistem ini penyusunan halaman dilakukan secara digital, melalui software imposisi seperti Signastation (Heidelberg), QuarkXtension, DK&A Imposition, Scienic Preps, dll. Software imposisi elektronik ini mutlak dimiliki dalam alur kerja CtP (cOmputer to Plate). Keuntungannya antara lain : efisien dan cepat karena bekerja secara digital, mengurangi masalah missregister, dapat diedit pada saat-saat terakhir dan dapat dicheck secara jelas (What you see is what you get).
Beberapa data yang harus dimasukkan saat pengerjaan imposisi elektronik,antara lain :
a. Ukuran mesin cetak yang akan digunakan misalnya SM 102 atau Roland 700, dll.
b. Jarak gripper dalam mesin cetak tersebut.
c. Sistem lipat/finishing yang akan dipakai (perfect binding atau sadle stitching atau yang lainnya).
d. Tanda-tanda yang dibutuhkan oleh mesin cetak tersebut , misalnya tanda lipat, potong, auto register, colorbar 4 warna, dsb.
e. Jenis kertas dan ketebalannya (gramatur).
Kelemahan dari sistem manual, yang perlu diperhatikan, antara lain:
a) Perubahan dot karena harus melalui proses dikontak lagi ke pelat cetak
b) Tidak menjamin kebersihannya
c) Sering terjadi misregister atau ketidak akuratan karena kesalahan manusia
d) Waktu pengerjaannya memakan waktu yang cukup lama
Imposisi sistem elektronik penyusunannya secara digital. Penggunaan sistem ini hampir tidak ada kelemahannya, kecuali jika menggunakan sumber daya manusia yang kurang kompeten.
Imposisi elektronik membutuhkan waktu yang relatif singkat karena penyusunannya secara digital, seandainya ada kesalahan penggabungan yang kurang sesuai bisa diedit secara cepat. Pengecekannya juga dapat dilihat langsung dilayar monitor. Ketepatan cetaknya dapat dipastikan register karena dikerjakan secara digital.
Jika imposisi sistem manual, penggabungan film separasi dan hitam putih melalui tahapan yang berbeda, tentunya lebih lama yang film separasi.
—1-bit Tiff—
1-bit Tiff adalah suatu format Tiff yang terdiri dari data bitmap hitam-putih yang berbentuk halftone. Data dengan format 1-bit Tiff merupakan hasil output dari suatu proses ripping yang telah mengandung informasi RIP seperti bentuk dot, screen ruling, sudut, resolusi output, jumlah warna separasi, dll.
Data tersebut memiliki kelebihan antara lain :
1. Sebagai format open system yang dapat dioutput ke berbagai jenis output yang berbeda jenis dan merek (Digital profer, CtP, CtF, Direct printing, dll). Asal perangkat output tersebut memiliki option 1-bit Tiff.
2. Dapat dikirim ketempat lain untuk dioutput lewat jaringan/network tanpa harus di RIP lagi dan tidak akan ada perubahan data. Pada umumnya data format TIFF bersifat continuestone dan dapat dibuka di photoshop serta berisi satu file saja. Data CMYK dalam format 1-bit Tiff akan terdiri dari 4 file (seperti DCS format).
—CIP-3 dan CIP-4—
CIP3 merupakan kependekan dari Cooperation for Integration of Prepress, Press, and Postpress, yaitu suatu badan internasional yang membentuk suatu standart format yang disebut : PPF (Print Production Format). Format CIP3-PPF mengandung informasi yang diperlukan pada proses 1-bit Tiff, CIP3, dan OPI cetak sampai finishing, seperti misalnya data administrasi, pembagian tinta (preset inking), keterangan pada lipat, potong, dll.
Perkembangan selanjutnya adalah munculnya CIP4 = International Cooperation for Integration of Process in Prepress, Press and Postpress, yang mendukung format JDF (Job Definition Format), yaitu format automisasi pada alur kerja PDF yang berbasis XML.
—Job Ticket—
Dokumen dalam bentuk PDF haruslah bersifat neutral, artinya tidak boleh mengandung sspesifikasi khusus dari suatu media output seperti screen ruling, resolusi, sudut raster, jenis screening, dll. Semua informasi yang menyangkut format PDF tersebut dilampirkan secara terpisah. Informasi terpisah itulah yang dikenal sebagai Job Ticket dan oleh Adobe dibuat dengan nama format PJTF (Portable Job Ticket Format). Pada tahun 1999, empat industri grafika yang terdiri dari Agfa, Adobe, Man Roland, dan Heidelberg membentuk standart format job ticket yang dikenal sebagai JDF (Job Definition Format).
Fungsi JDF ini adalah pemberi informasi dan mengendalikan proses automisasi dari administrasi depan (penerimaan pekerjaan, pembuatan penawaran, dll), prepress sampai persiapan cetak, finishing dan pengiriman produk cetak. Perpaduan PDF dan JDF merupakan dasar dari alur kerja paling up to date untuk saat ini.
Penerapan alur kerja tersebut dilakukan oleh berbagai software diantaranya adalah : Prinect (Heidelberg), Prinergy-(Creo), Apogee X-(Agfa), Brisque Extreme-(Scitex), Trueflow-(Screen), CelebraNT Plus-(Fuji), Xenith-(Xitron).
Data yang dapat disimpan oleh Job Ticket antara lain instruksi page processing (Layout imposition, Trapping rules), Parameter output (Screen frequencies, angles, resolution), Media (name, seize, weight), Finishing (intruksi untuk pelipatan, cutting, binding, dsb), Informasi CIP4 (Ink setting default untuk proses pencetakan), Delivery Information (address, number of copies), Scheduling (deadline), Administration (customer name, customer order number, person incharge).
—Sistem Manajemen Informasi—
Saat ini telah muncul teknologi baru yang menggabungkan jaringan digital untuk semua alur kerja produksi prepress, press, dan postpress dan menghubungkannya dengan alur kerja sistem manajemen informasi dalam sebuah percetakan. Dari Agfa dikenal sebagai konsep Apogee Project Management yang merupakan pengembangan terbaru dari Agfa Delano.
Manfaat bagi customer penerapan konsep management informasi system ini adalah :
1. Dapat meningkatkan produktivitas (pekerjaan yang dapat diterima bisa lebih banyak)
2. Menghindarkan terjadinya miss communication karena komunikasi sudah terpusat
3. Mengurangi kesalahan-kesalahan mulai dari prepress sampai postpress.
4. Dapat melayani customer dengan lebih baik (waktu proses dan penyelesaian pekerjaan dapat dipantau/prediksi)
—Networking & Transmisi Data Digital dalam dunia percetakan—
Dunia percetakan semakin berkembang pesat saat ini. Didukung dengan perkembangan teknologi di bidang grafika yang memberikan beberapa pilihan pada pengguna jasa grafika, ataupun pemain di bidang grafika itu sendiri. Percetakan, sebagai pemberi jasa di bidang grafika mulai memikirkan bagaimana memberikan kemudahan-kemudahan bagi pelanggannya, terutama dalam hal memberikan order cetak. Selain itu, pelanggan pun atau penerbit ingin agar percetakan dapat memberikan jasanya tidak terbatas hanya pada satu lokasi tertentu saja, melainkan beberapa tempat atau lokasi yang berbeda. Perkembangan teknologi dalam bidang komunikasi ternyata sangat mendukung keinginan antara pelanggan (penerbit) dan percetakan.
Komunikasi Data
Kemudahan pelanggan dalam hal mengakses data percetakan, baik berupa data digital maupun data konvensional sering merupakan persoalan tersendiri. Namun saat ini hal tersebut telah dapat teratasi seiring dengan semakin berkembangnya jaringan-jaringan komunikasi oleh penyelenggara jasa telekomunikasi. Pada saat jaringan komunikasi masih langka dan mahal, pelanggan banyak yang berhubungan dengan percetakan melalui cara manual.
Film atau alat penyimpan data berupa flash disk, CD maupun harddisk dengan kapasitas terbatas seringkali dibawa oleh kurir ke percetakan untuk diproses selanjutnya. Cara manual ini mempunyai beberapa kelemahan, antara lain : sering rusaknya media penyimpanan data, waktu yang dibutuhkan kurir lebih lama karena harus bolak-balik, keselamatan kurir itu sendiri, kendala di jalan dan yang paling penting, jika ada revisi pada menit terakhir (last minute change). Masalah komunikasi ini dapat terjawab dengan adanya jaringan komunikasi (online) antara pelanggan atau penerbit dengan percetakan. Jaringan online sangat memudahkan pelanggan dan percetakan untuk saling berkomunikasi dan meringankan beban si kurir. Syarat utama jaringan online ini adalah pelanggan atau penerbit memberikan materi order ke percetakan dalam bentuk data digital. Komunikasi data antara percetakan pusat dengan percetakan cabang menjadi sesuatu hal yang penting, terutama dalam masalah waktu terbit yang harus tepat waktu sedangkan jarak tempuh distribusi cukup memakan waktu. Sehubungan dengan ini, maka dibangun jaringan untuk melakukan pengiriman data digital penerbit dari percetakan pusat untuk selanjutnya diproses dan dicetak oleh percetakan cabang atau daerah.
Transmisi Digital
Sistem transmisi digital merupakan sistem komunikasi data yang menghubungkan pengirim dan penerima dengan menggunakan pengkodean secara digital. Contoh beberapa macam tipe transmisi digital :
1. Transmisi dengan kabel atau terrestrial (ISDN, JAMUS, internet-FTP)
2. Transmisi tanpa kabel atau wireless (radio link, satellite)
3. Transmisi dengan cahaya (serat optik)
Dalam hal memilih saluran transmisi yang hendak digunakan untuk komunikasi data ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, yaitu faktor yang menyangkut kehandalan, biaya transmisi yang optimum, dan geografis. Secara teori, pilihan transmisi dengan jalur komunikasi via satelit merupakan yang terhandal jika dibandingkan dengan jalur komunikasi terrestrial/kabel. Kekurangannya adalah biaya komunikasi yang paling mahal jika dibandingkan dengan jalur komunikasi lainnya. Untuk perlu benar-benar dipertimbangkan antara biaya, keuntungan, dan resiko dalam pemilihan jalur komunikasi tersebut.
Percetakan juga dapat menawarkan pada pelanggan untuk mengirimkan order-order berupa materi data digital melalui internet (atau FTP : File Transfer Protocol), radio link maupun lewat jalur satelit ke percetakan. Sesuaikan tingkat kebutuhan anda dengan teknologi komunikasi yang ada.
RIP (Raster Image Processing)
RIP merupakan kepanjangan dari Raster Image Processing, yang artinya adalah sebagai penterjemah dari bahasa postscript ke dalam bentuk bitmap. Tidak semua data dapat dengan baik diterjemahkan oleh RIP. Hal ini dipengaruhi oleh kemampuan RIP itu sendiri, konfigurasi platform yang dipakai serta data file yang akan dioutput. Proses yang terjadi pada RIP ada 3 tahap, yaitu:
1. Interpretation, yaitu menterjemahkan data postscript ke dalam bentuk objek.
2. Rasterization, yaitu merubah data objek ke dalam bentuk raster.
3. Screening, yaitu merubah data raster menjadi bitmap/titik halftone.
Pada proses ripping, data-data yang harus ditentukan adalah antara lain ; screen ruling, resolusi output, bentuk dot, sudut raster, warna proses atau spot, emulsi up/down, dll. Pada umumnya setiap RIP, memiliki fasilitas “preview” yang berfungsi untuk pengecekan terakhir semua data sebelum dilakukan imaging ke film/pelat/cetak. Setiap teknologi RIP dari masing-masing vendor memiliki kemampuan yang berbeda-beda dan membutuhkan ketentuan proses yang berbeda pula.
Saat ini teknologi RIP terbagi atas 2 jenis, yaitu :
a. Berbasis Postscript, artinya data yang diterima oleh RIP tersebut diolah menjadi data postscript lalu dioutput
b. Berbasis PDF, artinya data yang diterima oleh RIP akan diolah kedalam bentuk PDF. Saat ini kebanyakan teknologi RIP yang digunakan adalah yang berbasis PDF karena selain lebih cepat proses outputnya, PDF juga mendukung proses automisasi alur kerja dari prepress, press dan finishing dalam bentk job ticket. Sebagai contoh adalah Prinergy, Apogee, MetaDimension, dll.
Ø Jenis RIP
Secara fisik, jenis RIP terbagi atas 2 macam, yaitu :
1. Software RIP, contohnya Delta RIP, Apogee RIP, Brisque, Harlequin,Metadimension, dll.
2. Hardware RIP, contohnya Linotronic dari Linotype Hell, Selecset (Agfa), dll.
Ø Perbedaan hardware RIP dan software RIP
1. Hardware RIP lebih stabil dibanding software RIP, karena software RIP sangat dipengaruhi oleh software dan operating system pada PC/Mac.
2. Hardware RIP sangat mahal jika ada upgrade karena harus diganti hardwarenya. Sementara software RIP lebih murah dan mudah karena hanya perlu install dari CD.
3. Hardware RIP merupakan old technology, software RIP merupakan new technology.
Ø Option pada RIP
1. FM screening
2. OPI
3. CIP4
4. TIFF 1 Bit, dll.
Ø Stochastic Screening
Istilah lain yang sering digunakan adalah FM screening, yaitu suatu metode dimana reproduksi gambar dilakukan dengan besar titik yang sama namun jaraknya berbeda. Nada dan warna dikontrol melalui jumlah titik pada nada/warna itu sendiri, bagian gelap diwakili dengan titik yang paling banyak, bagian terang diwakili dengan bagian titik yang sedikit. Kelebihan dari metode ini dibanding dengan halftone screening adalah :
1. Gambar terlihat lebih mendekati foto/continuous tone.
2. Tidak menimbulkan moire, khususnya gambar-gambar yang memiliki moire pattern.
3. Tidak ada efek rossate (motif kembang akibat perbedaan sudut tiap dot), misal gambar AC, jok kursi, kain dll.
Pada penerapan Computer to Plate (CtP), metode ini menjadi option yang sangat dianjurkan karena dapat memberi alternatif untuk meningkatkan kualitas hasil cetak. Penamaan FM screening tiap vendor berbeda-beda, antara lain Diamond Screening (Heidelberg), Chrystal Screening (Agfa), Lazel - (Fuji), dll.
Digital Output
Dalam industri cetak offset, terdapat 3 macam digital output, yaitu Computer to Film (Imagesetter), Computer to Plate (Platesetter), dan Computer to Print.
1. Computer to Film (Imagesetter)
a.) Alur Kerja Computer to Film
Salah satu contoh perusahaan yang menerapkan teknologi dan alur kerja CtF adalah Repro House. Repro House merupakan sebuah perusahaan yang memberikan jasa pembuatan film separasi dan progressive proof. Proses alur kerja dimulai dengan menerima data digital dari advertising atau costumer (saat ini semua gambar digital biasanya langsung dari kamera digital, jadi costumer jarang membawa photo/slide untuk discan).
Data digital tersebut kemudian dibuka pada PC atau Macintosh untuk diperiksa kelengkapannya agar tidak terjadi masalah pada output film. Kemudian data tersebut dibuat menjadi data postscript atau file PDF dan diimposisi menjadi satu ukuran besar (plano) dan dioutput ke imagesetter (CtF) melalui RIP (Raster Image Processor), untuk menjadi film separasi. Kemudian melalui mesin platemaker dikontak menjadi plate cetak dan siap dibuat progressive proof. Dipercetakan, film separasi dikontak ke plate cetak dan selanjutnya siap naik ke mesin cetak.
Berfungsi sebagai pengoutput film separasi warna yang digunakan untuk proses cetak. Ada 2 jenis teknologi imagesetter, yaitu: teknologi drum dan capstan. Pada teknologi drum, film yang akan disinari diletakkan pada sebuah drum, apakah external drum (diluar drum) ataupun internal drum (didalam drum), kemudian film tersebut divakum dan disinari oleh sinar laser. Pada sistem ini masalah keakuratan lebih tinggi, tapi harga jauh lebih mahal dibanding capstan. Sementara itu pada teknologi capstan imagesetter, film menbentang secara mendatar (dijepit oleh tension roll) lalu disinari oleh laser. Untuk waktu tertentu masalah register kurang akurat tetapi kecepatannya lebih tinggi dibanding drum. Teknologi capstan banyak digunakan pada percetakan koran dan cetak komersil. Film separasi yang dihasilkan dari imagesetter sangat dipengaruhi oleh jenis film dan kondisi prosesor (cairan chemical) yang digunakan.
Ada 2 hal yang harus kita perhatikan untuk mengecek kualitas film separasi, yaitu :
a. Density film (kepekatan film)
Pada umumnya density maximum yang disarankan adalah 3.8 – 4.2 D. Nilai tersebut harus diukur dengan densitometer transparency. Nilai density yang rendah akan mengakibatkan warna solid pada cetakan terlihat pudar/abu-abu. Salah satu penyebabnya antara lain adalah kondisi prosessor yang kurang baik.
b. Dot % (raster)
Dot % (raster) disarankan linier, artinya nilai 50 % pada data digital (file) harus keluar 50 % pada film, dengan toleransi +/- 2 %.
Bagaimana menilai film separasi yang baik ?
Mesin Imagesetter harus dikalibrasi secara rutin untuk menjaga kualitas film separasinya. Dan alat ukur yang dipakai untuk kalibrasi adalah berupa densitometer film. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk memeriksa kualitas dari film separasi, antara lain : register, density, dan linearisasi.
Density
Density adalah nilai kepekatan film separasi. Nilai density maximum yang disarankan adalah 3.8 – 4.2D. Untuk mengetahui nilai density suatu film harus menggunakan alat ukur densitometer transparancy. Nilai density yang rendah akan mengakibatkan warna solid pada hasil cetakan akan terlihat pudar atau warnanya tidak pekat. Salah satu penyebab density rendah karena kondisi prosessor yang kurang baik.
Linearisasi Dot (Raster)
Linearisasi dot artinya raster 50% pada file digital harus keluar 50% juga pada film dengan toleransi + 2%.
2. Computer to Plate (Platesetter)
Platesetter berfungsi untuk meng-output pelat cetak langsung dari data digital (PC/Mac) tanpa melalui film separasi. Teknologi CtP relative baru di Indonesia, yakni baru sekitar tahun 2000-an. Dibanding dengan sistem Computer to Film, teknologi CtP memiliki beberapa kelebihan, antara lain :
1.) Kualitas lebih baik
· Dihasilkannya “First Generation Dot”-yakni dari data digital langsung ke pelat tidak melewati suatu media lain/film.
· Dot yang lebih tajam dibandingkan dengan pelat konvensional.
· Tidak ada kesalahan copy pada pelat akibat debu, potongan film yang tertinggal,dll.
· Mampu menghasilkan titik raster dari 1% hingga 99% sehingga jangkauan warna menjadi lebih lebar, sehingga detil pada area highlight maupun shadow menjadi lebih baik.
· Dot gain berkurang.
· Registrasi yang sangat akurat.
· Kualitas cetak yang konsisten dan mudah diulang.
2.) Proses produksi menjadi lebih cepat
· Proses pembuatan pelat lebih cepat.
· Proses pembuatan ulang pelat menjadi cepat dan mudah (repeatibility).
· Mesin cetak dapat dioptimalkan pemakaiannya karena deadline yang lebih panjang.
· Make ready time pada mesin cetak lebih cepat.
· Lebih fleksibel untuk pekerjaan mendadak.
3.) Peningkatan keuntungan bagi perusahaan pencetakan
· CtP menjadi alat promosi perusahaan.
· Penghematan bahan baku secara signifikan (pemakaian kertas untuk cetak coba) pada proses cetak awal.
· Ramah lingkungan hidup karena tidak ada film.
Sama seperti pada imagesetter, ada tiga bentuk arsitektur dasar CtP, yaitu : flatbed, internal, dan external drum.
a. Teknologi Flatbed
Pada CtP berbasis flatbed, pelat yang akan disinari diletakkan pada sebuah permukaan datar lalu laser head bekerja “menulis” secara horisontal dari kiri ke kanan dan sebaliknya, sedangkan pelatnya bergerak secara vertikal. Pada umumnya teknologi flatbed banyak dipakai pada industri koran yang tidak memerlukan resolusi gambar yang terlalu tinggi. Keuntungan teknologi flatbed :
» Mudah dalam menangani pelat, terutama bila ukurannya kecil.
» Kecepatannya produksi sangat tinggi untuk kualitas surat kabar.
b. Teknologi Internal Drum
Pada sistem ini, pelat dipasang di dalam drum yang statis yang pada umumnya sistem ini bekerja dengan satu berkas laser untuk menyinari seluruh plate. Laser yang sering digunakan untuk sistem ini antara lain : Violet Laser (405 nm), Argon ion (488 nm), Helium neon (633 nm), YAG (532 nm). Contoh CtP yang menggunakan teknologi ini antara lain : Heidelberg Prosetter, Agfa Galileo, Purup Eskofot Plate Driver, dll. Keuntungan teknologi internal drum “
» Pelat tidak bergerak melainkan diam, tapi laser yang berputar.
» Dapat menangani ukuran besar (8-up).,
c. Teknologi External Drum
CtP dengan arsitektur external drum, pelat dipasang pada bagian luar drum. Sewaktu proses imaging, laser head akan bergerak sejajar dengan sumbu sambil menyinari permukaan pelat pada drum yang berputar. Prinsip ini menggunakan laser head ditempatkan amat dekat dengan permukaan pelat. Jenis CtP ini memerlukan daya laser yang lebih kecil dibanding sistem lain. Contoh yang menggunakan teknologi antara lain : Heidelberg Topsetter, Cro Scitex Trendsetter, Creo Lotem, Screen PlateRite.
Ditinjau dari emulsi pelatnya, terdapat beberapa sistem pada CtP, yaitu :
a. Pelat Konvensional
Pada awalnya harga pelat konvensional dengan pelat CtP sangat berbeda, dimana pelat CtP sangatlah mahal. Oleh karena itu produsen CtP membuat sistem yang dapat menggunakan pelat konvensional. Salah satu produsen yang berhasil memasarkan perangkat Computer to Conventional Plate (CtCP) adalah BasyPrint dari Jerman. Oleh karena dari waktu ke waktu harga pelat CtP semakin menurun, maka produsen CtCp mulai menghentikan memproduksi CtCP dengan pelat konvensional. Karena meskipun menggunakan pelat konvensional, harga mesinnya sendiri sangatlah mahal.
b. Pelat berbasis Visible Light
Jenis pelat ini bekerja dengan emulsi peka cahaya silver halide seperti yang dimanfaatkan pada film grafika yang digunakan selama ini dan dapat disinari dengan sumber cahaya Laser bertenaga rendah dan murah (kini dengan laser violet 5 mw). Karena peka terhadap cahaya “visible”, penanganan pelat pada sistem ini harus dilakukan dibawah lampu kuning (yellow room). Beberapa sisi negatif pelat ini adalah Harganya relatif mahal (karena komponen perak yang dikandungnya), Tidak dapat dipanggang seperti pelat konvensional dan pelat thermal, dan di negara tertentu pelat tersebut dapat mencemari lingkungan (dari sia-sisa larutan pengembang).
c. Pelat Thermal
Keunikan dari jenis pelat ini tidak peka terhadap cahay melainkan terhadap panas yang dikeluarkanl oleh gelombang cahaya tertentu. Karena tidak peka terhadap cahaya, pelat thermal dapat ditangani langsung diruang terbuka tanpa harus menggunakan lampu pengaman seperti jenis pelat yang lain.
Keunikan lainnya adalah emulsinya bersifat binary artinya image baru akan terbentuk setelah melewati nilai treshold tertentu (dibawah nilai treshold yang ditentukan gambar tidak akan terbentuk). Hal ini berarti pelat thermal tidak mengenal istilah over atau under exposed. Saat ini pelat thermal diakui merupakan pelat terbaik dalam mereproduksi gambar. Untuk meningkatkan daya cetaknya pelat thermal dapat dipanggang (post baked).
d. Photopolymer
Emulsi pelat photopolymer serupa dengan emulsi pelat presensitized biasa dengan tingkat kepekatan lebih tinggi hingga dapat disinari dengan laser violet yang memiliki kekuatan 30 mW. Daya cetak dan resolusi pelat photopolymer lebih rendah dari pelat thermal dan pelat silver halide, yaitu 100.000 (dapat ditingkatkan hingga 700.000 dengan proses baking) dengan resolusi raster maksimum 175 dpi.
Digital Printing (Computer to Print)
Digital printing merupakan salah satu teknologi cetak yang memiliki high quality langsung dari komputer. Perbandingan kualitas antara cetak offset dan digital printing bukan lagi menjadi aspek utama, karena ada kelebihan lain dari digital printing yang tidak dapat dilakukan oleh cetak offset, yaitu speed dan flexibilitas. Beberapa kelebihan lain dari digital printing adalah :
Ø Short run printing, yaitu mencetak dengan oplah dibawah 1000, dalam full color termasuk mencetak 3 lembar, 20 lembar, atau 100 lembar.
Ø On demand printing, yaitu mencetak sesuai dengan kebutuhan, kapan saja, dimana saja serta dapat meng-update/merubah data pada saat siap cetak.
Ø Personalization, yaitu kemampuan mencetak secara personal/perindividu/pergroup dengan data yang bervariasi.
Ø Distributed printing, yaitu data digital dapat langsung dicetak secara bersamaan di tempat lain, segera setelah data tersebut diterima dimanapun.
Tidak seperti halnya sistem cetak offset tradisional, untuk mendapatkan suatu hasil cetak harus melewati tahap pembuatan film separasi warna, montase, plate making baru cetak. Proses tersebut memakan waktu yang tidak pendek belum lagi bila akan diadakan perubahan, maka waktu akan semakin lama. Teknologi dalam digital printing ada beberapa jenis namun yang paling banyak digunakan, antara lain :
1. Inkjet printing (menggunakan toner bubuk)
-Contoh : Printer HP, Roland, Canon, dll.
-Kualitas inkjet.
-Direkomendasikan untuk dibawah 10 lembar (untuk membuat poster, proof).
2. Elektrophotography (menggunakan toner bubuk)
-Contoh : Xerox Decucolor, Nexpress 2100.
-Kualitas laser.
-Direkomendasikan untuk dibawah 200 lembar.
3. Digital offset (offset + elektrophotography)
-Contoh : Xeikon, Indigo, Chromapress.
-Kualitas offset.
-Direkomendasikan untuk pencetakan dibawah 800 exp.
4. Direct imaging offset
-Contoh : Heidelberg SM 74 DI
-Kualitas offset.
-Direkomendasikan untuk pencetakan dibawah 5000 lembar
Digital Proofing
Digital Colour Proofing (DCP) pada alur kerja CtP merupakan “satu paket” beserta RIP Color Management. Dan fungsi DCP tersebut adalah untuk mensimulasi hasil keseluruhan pekerjaan yang akan dicetak, baik itu warna maupun isi (content). Warna yang terlihat pada hasil Digital Colour Proofing sudah dikalibrasi dengan mesin cetak yang ada, sehingga warnanya akan sangat mendekati dengan hasil cetaknya.
Setelah data diimposisi dan dioutput ke DCP, maka hasil proofing tersebut diberikan kepada customer untuk diperiksa. Apabila ada koreksi maka akan diulang data digitalnya sampai tepat benar. Setelah itu baru dioutput ke CtP dan diproses ke mesin cetak. Dummy dengan DCP tersebut akan menjadi patokan bagi operator cetak saat mencetak, termasuk warna dan isinya.
Untuk perusahaan packaging, masalah warna dari DCP belum dapat dijadikan panduan oleh karena keterbatasan DCP dalam mensimulasi hasil cetak, karena pada umumnya packaging banyak menggunakan warna-warna khusus. Perlu jenis printer khusus untuk dapat mensimulasi warna khusus dan harganya masih sangat mahal, misalnya Kodak Approval. Beberapa hal yang masih menjadi kendala dalam hal penggunaan Digital Colour Proofing alur kerja pada CtP (tergantung tipe RIP color managementnya) diantaranya :
· Warna tidak bisa 100% sama, hal ini tergantung dari jenis kertas dan konsistensi cetak yang digunakan
· Simulasi warna-warna spesial terbatas
· Simulasi teks yang direserve terbatas
· Efek overprint tidak bisa terlihat
· Gradasi patah belum tentu dapat disimulasi dengan baik
· Efek moire tidak terlalu jelas terlihat pada Digital Colour Proofing dibanding hasil cetaknya.
Contoh jenis printer yang biasa digunakan untuk DCP antara lain : HP Designjet Z2100, Z3100, Epson 4800, 7800, dll. Contoh RIP Color Management antara lain : GMG, ORIS, EFI, dll.
1. Jenis dan Tujuan Proof
a. Design Proof
Proof awal yang digunakan oleh desainer untuk memperlihatkan konsep dan isi desainnya
b. Contract Proof
Contract proof digunakan oleh desain grafik sebagai lampiran atas kesepakatan pekerjaan.
c. Page Proof
Proof yang dibuat oleh pihak percetakan dan dipakai sebagai panduan reproduksi akhir, biasanya hanya beberapa halaman.
d. Imposition Proof
Impsition proof dipakai oleh percetakan sebagai panduan posisi cetak, agar imposisi halaman sesuai dengan sistem penjilidan.
2. Fungsi Digital Proofing secara Menyeluruh
a. Sebagai layout proof.
b. Untuk percetakan dengan menggunakan CtP, digital proof tidak ditawar lagi karena berfungsi untuk simulasi warna dan pengecekan data hasil akhir.
Dye Sublimation
Seperti yang tertera pada namanya, printer dye sublimation ini bekerja memanfaatkan proses sublimasi yaitu perubahan benda dari padat langsung menjadi gas. Nama lain dari printer ini adalah Dye Diffusion Thermal Transfer yang menunjukkan adanya prooses pemanasan untuk mentransferkan dye (pewarna) ke kertas. Printer dye sublimation memerlukan dua material khusus yakni film donor atau transfer roll ribbon, umumnya dalam bentuk gulungan plastik dengan bidang warna yellow, magenta, dan cyan (beberapa printer menyertakan black) yang disusun berselang-seling, dan receiver berupa kertas khusus.
Proses pencetakan dimulai dengan warna pertama dimana film donor akan dipanaskan oleh kepala pencetak dengan resolusi 300 dpi yang menyebabkan dye padat dari film donor menguap kemudian menyerap ke kertas receiver dan menjadi padat kembali. Semakin tinggi panas yang diberikan, akan semakin tebal pula warna yang didifusikan ke kertas. Selesai dengan warna pertama, kertas akan ditarik mundur untuk melakukan pencetakan warna kedua dan demikian seterusnya.
Printer ini memilki keunggulan utama yang tidak dimiliki oleh printer lainnya, karena ia merupakan satu-satunya printer yang mampu menghasilkan reproduksi dalam bentuk continous tone. Pada dye sublimation pencampuran tersebut berlangsung secara difusi sehingga warna-warna memang menyatu. Karenanya, meski bekerja hanya dengan resolusi 300 dpi, printer ini mampu menghasilkan cetakan dengan mutu yang setara dengan cetakan foto.
Thermal Wax
Warna-warna C, M, Y, K pada thermal wax dibentuk oleh zat pewarna yang dilarutkan dalam wax (lilin). Pada waktu pencetakan, print head akan memanaskan lapisan lilin berwarna pada film donor hingga meleleh dan berpindah ke kertas. Citra pada thermal wax dibentuk dengan metode dithering (gabungan titik-titik). Dengan resolusi 300 dpi (yang dimiliki oleh print head), jelas mutu reproduksi dari printer thermal wax ini berada di bawah mutu printer laser atau printer inkjet. Keunggulan printer thermal wax terletak pada daya tutup warnanya yang amat baik serta tidak memerlukan kertas khusus sehingga sesuai untuk desain yang mengandung bidang solid, seperti kemasan karon.
Inkjet
Inkjet dengan metode ink-on-demand diperkenalkan oleh Siemens pada tahun 1977 dalam bentuk printer PT-80. Pada metode ink-on-demand, tinta hanya akan disemprotkan pada bagian-bagian yang mencetak. Karena lebih murah dan sederhana, ink-on-demand merupakan metode yang umum digunakan pada printer inkjet. Pada metode ini terdapat dua teknologi yang umum digunakan yakni bubble jet atau thermal inkjet yang diterapkan antara lain oleh Cannon dan Hewlett-Packard, dan piezo eletric yang diterapkan oleh Epson.
3. RIP Color Management
RIP Color Management digunakan pada digital proofing apabila ingin mengoptimalkan proses simulasi hasil cetak offset melalui hasil digital proof. Contohnya antara lain Best Color, Wasatch, Fiery Rip, dll.
Konvensional Proofing
Istilah lain yang sering disebut untuk konvensional proofing adalah Progressive Proof atau manual proof yaitu suatu proses proof cetak yang dilakukan dengan menggunakan sistem cetak offset dengan bentuk yang lebih sederhana (hampir sama seperti cetak offset yang sebenarnya). Proses pembuatan proof ini dilakukan satu per satu (seperti mesin cetak satu warna). Kondisi alat proof cetak saat ini semakin lama semakin kurang optimal oleh karena mesin tersebut sudah lama tidak diproduksi lagi (kira-kira sejak 8 tahun yang lalu) dan banyak suku cadang yang tidak menunjang lagi sehingga biaya perawatannya menjadi lebih mahal. Beberapa kelemahan proof cetak konvensional :
1.) Dilakukan secara manual sehingga sulit dicapai standardisasi.
2.) Memiliki masalah pada kerataan tinta pada seluruh bidang cetak.
3.) Tidak stabil dalam hal warna, sehingga tiap lembar memiliki warna yang berbeda.
4.) Kurang efisien, karena tetap memerlukan faktor separasi.
5.) Perlu tempat yang besar.
6.) Biaya produksi tinggi karena memakai bahan baku pelat, kertas, tinta, chemical dan memerlukan banyak tenaga operator.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar